Ketika bersyahadat
Yang kami janjikan bukan cuma shalat dan zakat
Melainkan penghambaan pada-Mu setiap saat
Ketika bersyahadat
Mengimani seluruh firman-Mu adalah konsekuensi
Bukan pilih-pilih ayat puasa dan haji
Lalu mengingkari ayat riba dan poligami
Ketika bersyahadat
Tak pantas kami menganggap qishash kejam
Karena bersamanya ada jaminan kehidupan
Tak patut kami menilai potong tangan tak berperikemanusiaan*
Karena di baliknya ada kepastian kesejahteraan
Tak layak kami menuduh rajam melanggar HAM**
Karena itu adalah penebus dosa dan peringatan
Ketika bersyahadat
Kepemimpinan Rasulullah adalah kiblat kami
Bukan ala Yunani atau Romawi
Bukan Obama atau Sarkozy
Ketika bersyahadat
Kami kibarkan Liwa Raya*** tinggi-tinggi
Di atas panji-panji buatan kami sendiri
Ketika bersyahadat
Bukan hanya kami bersaksi
Tapi Kau pun berjanji
Menjadikan kami umat terbaik di seantero negeri
Namun mengapa hingga sekarang
Kami serupa buih di lautan?
O, pantaslah jika demikian
Sebab jutaan syahadat yang kami lantunkan siang malam
Hanya sebatas di bibir ini
Bukan di otak, bukan di hati
Bukan di tangan, bukan di kaki
* : Hukum potong tangan diberlakukan bersamaan dengan penerapan Sistem Ekonomi Islam dimana negara berkewajiban menjamin kebutuhan primer, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
** : Hukum rajam diberlakukan bersamaan dengan penerapan Sistem Ekonomi Islam sehingga tidak ada wanita yang melacurkan diri, kemudahan menikah, dan larangan pornografi.
*** : Bendera dan panji Rasulullah bertuliskan Laailaahaillallaah Muhammadurrasulullah

Sumber dari sebuah catatan di facebook Fatimah Nur Pratiwi, adiknya temanku SMP dan SMA.






No Comments